• Home
  • Mobile
  • Featured
More

    Menanti Kiprah Emma Sri Martini Membesut Telkomsel (Bagian 1)

    Jakarta – September ini menjadi bulan keempat bagi Emma Sri Martini menduduki posisi sebagai Managing Director Telkomsel. Seperti diketahui, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Telkomsel yang diadakan di Jakarta, Rabu (29/5/2019), mengenakan jilbab wanita ini menjadi penerus Ririek Adriansyah.

    Penampilan Emma agak mengejutkan. Sebab, dia berasal dari luar PT Telkom. Sebelumnya Emma adalah orang nomor satu di PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). BUMN di bawah Kementerian Keuangan. Dia telah menjabat sebagai presiden, sejak pendiri perusahaan pembiayaan infrastruktur pada Februari 2009.

    Seperti kita ketahui, selama Telkomsel didirikan pada 1995, posisi presiden direktur selalu berasal dari PT Telkom. Dengan penampilan Emma, ​​ini adalah pertama kalinya Telkomsel dipimpin oleh seorang eksekutif di luar PT Telkom. Perusahaan induk yang merupakan pemegang saham mayoritas.

    Selain hilangnya "hak istimewa Telkom," tradisi lain yang berubah adalah bahwa Direktur Pelaksana Telkomsel tidak selalu memiliki latar belakang dalam industri telekomunikasi.

    Sebelumnya, karena posisi Presiden Direktur selalu diisi dengan eksekutif dari PT Telkom, pengalaman dan latar belakang alami tidak menjadi masalah. Karena masih di bidang yang sama.

    Penunjukan Emma sebagai Direktur Pelaksana Telkomsel, sebenarnya mengulangi langkah-langkah Kementerian BUMN ketika memilih Arwin Rasyid dan Rinaldi Firmansyah sebagai presiden direktur PT Telkom.

    Arwin menjadi presiden Telkom dalam periode 2005 – 2007. Dia adalah seorang bankir yang miskin di industri perbankan nasional.

    Pria kelahiran Roma ini, pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) dan Direktur Utama Bank Danamon.

    Sedangkan Rinaldi Firmansyah adalah mantan Managing Director Bahana Securities. Dia adalah pengganti Arwin. Rinaldi cukup tahan lama sebagai Managing Director Telkom, selama 2007 – 2012.

    Luasnya Cakupan

    Pergantian posisi teratas dalam suatu perusahaan, menurut hasil RUPS adalah hal biasa. Umumnya disebabkan oleh masa kerja direksi yang lama dan ada juga tempat pertukaran.

    Pertimbangan lain dilakukan sebagai penyegaran dalam tubuh organisasi. Sehingga perusahaan dapat terus tumbuh dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif.

    Begitu juga dengan Telkomsel. Sejak pertama kali didirikan pada tahun 2005, perusahaan telah dipimpin oleh banyak eksekutif yang tangguh, yang membuat Telkomsel tetap menang di industri seluler nasional saat ini.

    Mulai dari Koesmarihati (1995-1999), Mulya Tambunan (1999-2003), Bajoe Narbito (2003-2005), Suriah Kiskenda (2005-2009), Sarwoto Atmosutarno (2009-2013), Alex Janangkih Sinaga (2013-2015), Ririek Adriansyah (2015 – 2019), dan sekarang Emma Sri Martini.

    Setiap Direktur Pelaksana memiliki peluang dan tantangannya sendiri, sesuai dengan kondisi ekonomi, sosial, budaya dan politik. Dipengaruhi oleh teknologi seluler yang berkembang di zamannya.

    Semua berperan dalam membangun Telkomsel. Tercermin dari berbagai inovasi dan nilai-nilai perusahaan. Seperti pencapaian jumlah pelanggan, EBITDA, total pendapatan, margin bersih, jumlah konstruksi BTS, dan sebagainya.

    Jika diteliti, selama tiga CEO pertama, industri seluler berada dalam periode pertumbuhan awal. Teknologi GSM yang dipromosikan oleh Telkomsel memiliki keunggulan dibandingkan teknologi analog, NMT dan AMPS. Ini membuat penetrasi pengguna ponsel berkembang sangat cepat di era 2G.

    Apalagi layanan SMS, juga sepopuler suara. SMS bahkan telah menjadi salah satu sumber pendapatan yang telah mendorong kinerja keuangan semua operator di Indonesia.

    Di era yang didorong oleh produk ini, pertumbuhan Telkomsel didorong oleh berbagai inovasi produk dan layanan, seperti layanan prabayar pertama Simpati yang secara drastis mengubah kebiasaan orang.

    Singkatnya, tidak ada kesulitan bagi operator dalam mengalikan jumlah pelanggan, karena pasar masih terbuka lebar. Masalahnya lebih pada jumlah Capex yang harus dicurahkan. Selain itu, kondisi geografis Indonesia merupakan tantangan, yang tidak mudah ditaklukkan.

    Tapi itu tidak membuat Telkomsel enggan melanjutkan penyebaran jaringan di seluruh nusantara. Telkomsel beruntung memiliki Garuda Sugardo.

    Direktur Jaringan Telkomsel bekerja sama dengan Koesmarihati, dalam memperluas jangkauan sebagai kunci untuk bersaing dengan operator lain.

    Sejak awal, doktrin pengembangan jaringan Telkomsel adalah: C3 (jangkauan, jangkauan dan jangkauan). Setelah cakupan terpenuhi di suatu daerah, strategi bisnis berkembang menjadi C3QS (cakupan, kapasitas, biaya, kualitas dan layanan).

    Kemudian terbukti, bahwa jangkauan yang diperluas, dari Sabang ke Merauke, menjadi keuntungan yang hingga kini dapat dipertahankan Telkomsel dari pengejaran pesaing.

    Memasuki kepemimpinan Kiskenda Syriaardja, industri seluler mulai mengubah dari layanan dasar menjadi layanan data. Ini dipicu oleh penggunaan teknologi 3G. Dengan 3G, kami mulai mengenal panggilan video dan layanan streaming langsung.

    Jaringan 3G sejati di dunia diperkenalkan pada tahun 1998. Di sinilah istilah broadband seluler mulai muncul. Kecepatan maksimum yang ditawarkan oleh 3G mencapai 2 Mbps saat dalam posisi diam, dan 384 Kbps saat bergerak.

    Setelah melakukan serangkaian uji coba, pada 2007 Telkomsel menjadi operator pertama di Indonesia yang menawarkan layanan 3G secara komersial.

    Pada tahun yang sama, Telkomsel mulai mengembangkan berbagai layanan non-telekomunikasi yang merupakan layanan nilai tambah (VAS), seperti dompet ponsel (e-wallet), yaitu T-Cash, yang merupakan cikal bakal Link-Aja. Ada juga Langit Musik, layanan streaming musik yang menargetkan segmen anak muda.

    Perang Harga

    Setelah Kiskenda, Direktur Pelaksana berikutnya adalah Sarwoto Atomosutarno. Pria asal Solo ini, dipercayakan dengan misi untuk meningkatkan kinerja keuangan Telkomsel yang menurun, sebagai akibat perang tarif yang mulai meletus pada 2007.

    Persaingan yang ketat bahkan membuat pangsa pasar Telkomsel menyusut, dari 50% pada 2009 menjadi 47% pada 2010. Ini adalah dampak dari banyak operator yang beroperasi.

    Demi bersaing, operator kecil, seperti Fren, Tri, Axis, dan Smart Telecom, terpaksa menggunakan harga rendah dan bonus berlimpah, sebagai senjata untuk menangkap pelanggan.

    Kondisi ini akhirnya memaksa operator di lapisan kedua (Flexy dan Esia), serta tiga operator besar (Indosat, Telkomsel, XL), menerapkan langkah yang hampir sama.

    Hasil? Persaingan semakin berdarah karena tarif dipatok ke bawah. Sampai-sampai konsumen juga bingung, karena ada operator yang menerapkan tarif nol koma. Terkesan absurd.

    Kondisi ini diperparah dengan penerapan tarif interkoneksi yang dikeluarkan oleh pemerintah pada tahun 2008. Kebijakan ini menguntungkan konsumen karena tarif telekomunikasi ritel lebih terjangkau. Namun di sisi lain, hal itu membuat operator semakin sesak karena berdampak pada penurunan ARPU.

    Menurut penelitian Deutsche Bank, hanya dalam tiga tahun, dari 2005 hingga 2008, perbedaan tarif operator menjadi sangat timpang. Pada tahun 2005, tarif seluler di Indonesia masih tinggi di Asia, yaitu US $ 0,15 atau Rp 1.350 per menit. Namun pada 2008, tarif dipotong ke titik terendah, hanya US $ 0,015 atau hanya Rp 135 per menit.

    Layanan Broadband

    Tidak bisa dipungkiri, periode 2008 – 2010, bisa disebut sebagai titik balik dalam industri seluler. Setelah lebih dari satu dekade tumbuh dua digit, pertumbuhan kemudian menyusut menjadi satu digit. Pada fase ini, industri seluler memasuki titik jenuh.

    Puncaknya terjadi pada 2011, jumlah pengguna kartu SIM mencapai 260 juta. Padahal, total populasi Indonesia tahun itu adalah 240 juta. Ini berarti bahwa jika dihitung sebagai persentase, Indonesia sudah memiliki penetrasi seluler 110%

    Selain dihadapkan dengan kondisi ARPU yang menurun dan meningkatnya layanan OTT global seperti Facebook, Twitter, Youtube, yang mulai mengancam pendapatan operator, pada periode ini, pola komunikasi publik juga bergeser.

    Ini berkat evolusi ponsel fitur ke smartphone. Dengan beragam fitur dan kemampuan kamera yang semakin baik, telepon seluler tidak lagi hanya menyoroti fungsi-fungsi dasar tetapi juga cermin gaya hidup pengguna.

    Melalui smartphone, pengguna dapat mengakses internet di mana saja, baik itu hanya browsing, menonton video, bermain game, ke media sosial. Jadi operator memiliki peluang untuk memonetisasi bisnis di luar layanan legacy.

    Namun berkat smartphone juga, layanan suara dan SMS, meskipun pada saat itu masih merupakan kontributor terbesar bagi operator pendapatan, mulai menunjukkan tren menurun.

    Agar dapat bertahan hidup, mau tidak mau operator harus menjadi pelayan dalam menemani gaya hidup pengguna. Mulai dari pelanggan yang bangun di pagi hari, aktif di siang hari, hingga berbagai aktivitas di malam hari sebelum tidur.

    Menyadari bahwa masa depan perusahaan terletak pada layanan data dan konten, Sarwoto bergerak cepat. Pria asal Solo ini terus meningkatkan kualitas jaringan 2G dan 3G.

    Khusus untuk BTS 3G, jumlahnya terus meningkat, terutama di kota-kota kabupaten. Pada tahun 2011, Telkomsel memiliki total 50.000 BTS, 10.000 di antaranya adalah BTS 3G.

    Penambahan BTS 3G sangat penting untuk mendukung peningkatan lalu lintas layanan data. Perbaikan di bidang jaringan dalam skala besar sejalan dengan peningkatan dalam pemasaran dan sistem pendukung.

    Ketiga faktor ini menjadi sangat penting, untuk mengantisipasi booming layanan broadband yang diprediksi akan terjadi dalam lima tahun ke depan.

    Layanan broadband diyakini oleh Sarwoto untuk menciptakan kurva S kedua, kurva pertumbuhan kedua yang akan menjadi sumber pendapatan baru bagi Telkomsel.

    Namun, ketika perilaku pelanggan berubah, penggunaan layanan dasar (suara dan SMS) akan perlahan tapi pasti menurun. Meski tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh pelanggan.

    Bahkan, hasil pengembangan jaringan broadband telah membuat kinerja Telkomsel kembali. Sepanjang 2011, Telkomsel berhasil mencapai pendapatan sebesar Rp48,7 triliun, tumbuh 7% dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA meningkat sebesar Rp27,5 triliun, dan laba bersih sebesar Rp12,8 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari layanan data dan SMS.

    Prestasi lain di era Sarwoto yang tak kalah menggoda adalah keberhasilan meraih 100 juta pelanggan. Dengan pencapaian ini, Telkomsel berada di level elit operator dunia, berada di posisi ke-17. Jauh melampaui operator-operator terkenal, seperti NTT DoCoMo, Jepang, yang hanya duduk di posisi ke-28.

    Dengan visi menjadikan broadband sebagai masa depan industri, tidak salah jika Sarwoto layak mendapatkan penghargaan sebagai landasan untuk layanan broadband.

    Tidak hanya di Telkomsel, tetapi juga di industri seluler di Indonesia yang mengalami transformasi di era digital. Semua yang nantinya akan fokus pada pertumbuhan ekosistem DNA (perangkat, jaringan, aplikasi), sejalan dengan perkembangan besar-besaran BTS 3G dan populasi ponsel pintar yang melonjak.

    Triple Double Digit

    Setelah Sarwoto, Alex J. Sinaga diangkat sebagai presiden direktur Telkomsel berikutnya. Yayasan yang telah dibangun di hadapan dewan direksi, pada kenyataannya memberikan modal yang sangat berharga bagi mantan presiden direktur Telkom Metra, untuk lebih mempercepat layanan broadband yang ditawarkan oleh perusahaan.

    Di era Alex, manajemen Telkomsel membawa target yang sangat tinggi. Yakni, memenangkan bisnis digital, memperkuat kepemimpinan di kota-kota besar melalui 500 kota broadband, meningkatkan nilai tinggi pelanggan, dan mentransformasikan organisasi orang. Semua program ini sejalan dengan moto 3S (solid, speed, smart) yang diusung oleh perusahaan.

    Dengan perkembangan layanan data dan konten, tidak heran jika pada akhirnya Alex menyatakan Telkomsel sebagai perusahaan digital. Itu berarti Telkomsel bukan lagi hanya perusahaan telekomunikasi, tetapi perusahaan digital.

    Alex haqul percaya bahwa tren masa depan akan didominasi oleh hal-hal digital. Masyarakatnya akan disebut masyarakat digital. Telkomsel ingin menjadi lokomotif yang menggerakkan orang ke arah itu (masyarakat digital).

    Melalui program yang ditargetkan, 2012 telah menjadi tahun pembuktian bagi Alex Sinaga. Meskipun mengalami badai akibat gugatan kebangkrutan, operator nomor satu di Indonesia, mampu menunjukkan kinerja bisnis yang luar biasa.

    Salah satunya adalah perolehan pendapatan yang mencapai Rp 54,53 triliun, naik 12% dibandingkan 2011 sebesar Rp 48,73 triliun. Ini adalah pertama kalinya Telkomsel berhasil mendapatkan kembali pertumbuhan dua digit sejak 2008.

    Dalam hal jaringan, sepanjang 2012 Telkomsel memiliki 54.000 BTS dengan total 15.000 termasuk BTS 3G. Dengan BTS sebanyak itu, jangkauan Telkomsel mampu mencapai 95% dari wilayah populasi Indonesia.

    Dengan momentum yang telah diciptakan, Alex terus meluncurkan mesin pertumbuhan Telkomsel. Pada akhir 2013, Telkomsel mencatat pendapatan lebih dari Rp60 triliun, atau tumbuh 10,1% dibandingkan tahun sebelumnya.

    Pertumbuhan pendapatan tersebut telah menyebabkan peningkatan laba bersih dan laba perusahaan sebelum biaya bunga, pajak, amortisasi dan depresiasi (EBITDA) masing-masing sebesar 10,4% dan 10%.

    Sukses di 2012 dan 2013, berlanjut di akhir 2014. Telkomsel membukukan laba bersih Rp 19,4 triliun pada 2014, meningkat 11,9% dibandingkan laba bersih 2013 yang mencapai Rp 17,34 triliun.

    Lonjakan laba bersih tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan yang mencapai 10,4 persen menjadi Rp66,25 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp60,03 triliun.

    EBITDA 2014 tercatat Rp37,25 triliun, naik 10% dibandingkan 2013 sebesar Rp33,8 triliun. Pendapatan Telkomsel melonjak sepanjang 2014, karena perusahaan berhasil menumbuhkan bisnis layanan broadband dan digital yang didukung oleh pertumbuhan layanan suara dan SMS.

    Kepemimpinan Alex di Telkomsel berakhir pada 2014. Selama lebih dari tiga tahun memimpin Telkomsel, Alex Sinaga telah memberikan landasan yang kuat untuk kinerja Telkomsel.

    Dia mewariskan pencapaian yang rapi dalam hal pendapatan, margin bersih, dan EBITDA. Pertumbuhan ganda selama tiga tahun berturut-turut di tengah kondisi industri seluler telah mencapai titik jenuh.

    Selain kinerja keuangan yang solid, pada akhir periode layanannya, pada Desember 2014, Alex juga meluncurkan layanan internet baru di jaringan 4G LTE.

    Ini adalah layanan jaringan seluler 4G LTE komersial pertama di Indonesia. Jakarta dan Bali dipilih sebagai area pertama. Sebelumnya, Telkomsel menguji layanan 4G di berbagai kesempatan, termasuk dalam penyelenggaraan KTT APEC di Bali pada September 2013.

    Dengan 4G yang mampu berjalan hingga 100 Mbps, tiga kali lebih cepat dari 3G, orang akan semakin dimanjakan dalam mengakses internet seluler.

    Mengakses media sosial, membalas email, menjelajahi internet, mengunggah / mengunduh foto atau dokumen kerja, bermain game, menonton video online dengan kualitas HD, dan berbagai kegiatan lainnya, akan menjadi kebiasaan baru, terutama di milenium.

    Ini adalah lompatan yang luar biasa, mengingat beberapa tahun yang lalu, orang masih terbiasa dengan layanan dasar (suara dan SMS). Tidak ada yang diharapkan, berkat teknologi 3G dan 4G, ponsel menjadi objek yang sangat vital dalam mendukung kegiatan sehari-hari,

    Seperti 3G, kehadiran 4G memperkuat predikat Telkomsel sebagai pelopor dalam pengembangan dan implementasi teknologi seluler terkemuka di Indonesia.

    Agenda Transformasi

    Dengan prestasi gemilang saat memimpin Telkomsel, Alex Sinaga juga naik ke posisi teratas di perusahaan induk, PT Telkom. Posisinya digantikan oleh Ririek Adriansyah yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT TELIN (Telkom International).

    Ririek Adriansyah, Managing Director Telkomsel

    Seperti Alex yang juga alumnus ITB, Ririek, penduduk asli Yogyakarta, juga meraih gelar Sarjana Teknik Listrik di ITB pada tahun 1988. Pengalamannya di industri telekomunikasi mungkin tidak perlu diragukan.

    Namun memimpin perusahaan sebesar Telkomsel di tengah kondisi industri yang jenuh dan perilaku pelanggan yang tiba-tiba berubah menjadi data yang lapar tentu merupakan tantangan.

    Beberapa bahkan menilai lelaki kelahiran 2 September 1963, di bawah bayang-bayang Alex Sinaga, yang berhasil mencatat prestasi fenomenal, yaitu tiga tahun berturut-turut untuk membawa Telkomsel ke pertumbuhan dua digit.

    Bahkan, di tangan Ririek, Telkomsel juga semakin berotot. Pada tahun pertama menangkap Telkomsel, yaitu 2015, perusahaan memperoleh untung Rp 22,36 triliun. Naik 15,4% dibandingkan tahun 2014 sebesar Rp 19,39 triliun.

    Laba tersebut merupakan buah dari pendapatan yang menembus Rp 76,055 triliun, naik 14,8% dibandingkan 2014 yang Rp66,25 triliun.

    EBITDA pada 2015 berjumlah Rp42,6 triliun, melonjak 14,4% dibandingkan 2014 sebesar Rp37,2 triliun. Secara total ada 152.641 juta pelanggan dengan lebih dari 50% menjadi pelanggan data.

    Jadi, bahkan pada akhir 2016, Ririek terus mencatat kinerja yang apik. Tahun ini, Telkomsel meraih pendapatan sebesar Rp 86,72 triliun, naik 14% dibandingkan periode 2015 sebesar Rp 76,05 triliun.

    EBITDA sebesar Rp49,78 triliun, naik 16,9% dibandingkan periode 2015 sebesar Rp42,6 triliun. Sementara laba bersih mencapai Rp 28,19 triliun, naik 26,1% dibandingkan tahun 2015 yang sebesar Rp 22,36 triliun.

    Seperti pada 2015 dan 2016, pada 2017 mesin Telkomsel juga terus memproduksi kantong uang yang mengundang kekaguman.

    Perusahaan berhasil mencapai pendapatan sebesar Rp93,21 triliun selama 2017 atau meningkat 7,5% dibandingkan 2016 yang sebesar Rp86,72 triliun. Pada akhir 2017, Bisnis Digital menghasilkan pendapatan sebesar Rp39,4 triliun, naik 28,7% dibandingkan periode 2016 sebesar Rp30,6 triliun.

    EBITDA sebesar Rp53,5 triliun meningkat 7,7% dibandingkan dengan 2016 yang sebesar Rp49,5 triliun. Laba bersih Telkomsel sebesar Rp30,39 triliun naik 7,8% dibandingkan 2016 yang sebesar Rp28,1 triliun.

    Itu artinya, sepanjang 2015 – 2017, Ririek mampu menyamai pencapaian Alex Sinaga. Pencapaian triple double digit, di tengah persaingan yang ketat dan laju data yang terus meningkat.

    Tetapi persaingan ketat yang memicu perang tarif, ditambah dengan kewajiban untuk registrasi prabayar, dan semakin frustrasi pelanggan menggunakan layanan OTT (suara dan teks), membuat industri seluler sepanjang 2018 mengalami titik balik.

    Untuk pertama kalinya operator tumbuh negatif -6,4%. Kondisi ini pada akhirnya membuat Telkomsel tidak terus kebal. Namun, tercatat bahwa hanya Telkomsel yang mampu mencatat laba di tengah tren kerugian yang melanda operator lain.

    Sepanjang 2018, Telkomsel mencatat pendapatan sebesar Rp89,3 triliun, EBITDA sebesar Rp47,4 triliun, dan laba bersih sebesar Rp25,5 triliun. Pendapatan perusahaan turun 4,18% dibandingkan dengan 2017 yang senilai Rp93,2 triliun.

    Terlepas dari penurunan kinerja keuangan yang minimal, sepanjang 2018, Telkomsel terus memperkuat fondasi broadband di era 4G dan kemudian 5G.

    Perusahaan harus terburu-buru dalam mendorong pengguna data. Alasannya, kontribusi layanan legacy (SMS dan suara) terhadap pendapatan residual adalah 39%. Sementara kontribusi layanan non-legacy atau digital sudah mencapai 61%.

    Hingga akhir 2018, Telkomsel telah membangun 28.376 BTS baru, semuanya berbasis 4G LTE. Ini memperluas jangkauan 4G LTE yang telah mencapai lebih dari 90% populasi.

    Saat ini total BTS yang dimiliki Telkomsel mencapai 197.000. Dari jumlah tersebut, 65.000 di antaranya adalah BTS 4G. Pada 2019, Telkomsel berencana membangun 20.000 BTS 4G, sehingga bisa mencapai 93% dari populasi.

    Prestasi lain Telkomsel di era Ririek adalah keberhasilan memenangkan tender frekuensi 2.300 Mhz dari 30 Mhz pada 2017. Spektrum tambahan ini memungkinkan Telkomsel untuk memperkuat dan memaksimalkan kualitas layanan 4G LTE bagi pelanggannya, terutama di daerah di mana kapasitas penggunaan layanan data sudah padat.

    Di era Ririek, Telkomsel juga terus berubah menjadi perusahaan telekomunikasi digital. Anak perusahaan Telkom ini memiliki 3 pilar inovasi digital yang terdiri dari The NextDev, Telkomsel Innovation Center (TINC), dan Telkomsel Innovation Partner (TMI). Semuanya berperan dalam mengembangkan ekosistem digital nasional.

    Selama era Ririek, Telkomsel dianggap sebagai operator yang paling siap untuk mengoperasikan layanan 5G. Ini berkat uji coba 5G yang sukses, selama Asian Games ke-18 yang diadakan di Jakarta, Agustus 2018.

    Tak tanggung-tanggung demi menghadirkan pengalaman 5G yang revolusioner, Telkomsel membangun "Pusat Pengalaman 5G" di acara olahraga internasional.

    Publik dapat segera mencoba berbagai perangkat yang dilengkapi dengan teknologi 5G seperti Live Streaming, Football 2020, Future Driving, Cycling Everywhere dan Autonomous Bus.

    Mobil Telkomsel 5G

    Dari semua ini, Bus Otonomi bisa dibilang yang paling menarik perhatian. Sesuai namanya, mobil otonom ini mampu berjalan sendiri secara otomatis tanpa pengemudi. Kehadiran bus otonom ini adalah contoh kecanggihan teknologi LIDAR dan AI (Inteligensi Buatan) yang diprediksi akan jamak di era 5G.

    Kendaraan otonom ini, sering disebut mobil "hantu", membutuhkan jaringan dengan latensi rendah 1 milidetik yang hanya dapat dijalankan melalui teknologi 5G.

    Kecepatan transfer data 20 Gbps untuk berkomunikasi dengan kendaraan lain dan menghubungkan infrastruktur dengan perangkat dan memastikan mobilitas tanpa hambatan.

    Di era Ririek, Telkomsel juga terus memperluas portofolio layanan digitalnya. Mulai dari streaming video Maxstream, Layanan Keuangan Seluler, Periklanan Digital, Perbankan Digital, Data Besar dan Internet of Things (IoT).

    Pelanggan Telkomsel sedang mencoba aplikasi digital MAXstream

    Meskipun pada tahun 2018, kinerja Telkomsel sedikit melambat, tetapi itu tidak membuat pemerintah mengalihkan perhatian dari Ririek. Dalam RUPS yang diadakan pada Mei 2019, lelaki yang ramah dan bahagia itu diminta menjadi presiden Telkom untuk menggantikan senior, Alex Sinaga. Sementara Emma Sri Martini didapuk menjadi orang nomor satu di Telkomsel.

    Ini menghadirkan tantangan bagi Emma, ​​dalam memimpin Telkomsel di era gangguan teknologi yang tidak hanya memberikan peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan bisnis baru, tetapi juga menimbulkan kecemasan dan mengancam kebangkrutan bagi banyak perusahaan.

    Apa saja agenda transformasi, baik SDM, teknologi, bisnis dan layanan Telkomsel di tangan Emma Sri Martini? Lihat artikel saya selanjutnya.

    Artikel Terbaru

    Samsung Galaxy M30s Segera Edar di Indonesia

    Jakarta, Seluler. ID - Samsung sedang bersiap untuk mengumumkan Galaxy M30 di Indonesia pada 25 Oktober. Ini diketahui dari penggoda yang dibagikan perusahaan melalui...

    LinkAja Implementasikan Standar QR Code Indonesia di Pasar Tradisional

    Jakarta - Resmi diluncurkan pada 17 Agustus 2019 oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (Aspi), Standar QR Code Indonesia (Qris), yang akan...

    Artikel Terkait

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here